Mengenai Saya

Total Tayangan Web

Document

Arsip Blog

Oleh Ari Aditya Septian. Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 27 Februari 2013

Awal Proses Terbentuknya Bumi








Proses Terbentuknya Bumi - Bumi bukanlah benda di jagat raya yang muncul dengan sendirinya dalam bentuk yang sempurna. Bumi terbentuk melalui proses yang panjang dan terus berkembang hingga terbentuk sekarang ini. Para ilmuwan berpendapat bahwa proses pembentukan Bumi sudah dimulai sejak bermiliar-miliar tahun yang lalu. Planet Bumi bermula dari awan raksasa yang selalu berputar di antariksa. Awan raksasa tersebut akan membentuk bola-bola yang menarik butir-butir debu dan gas. Bola-bola debu dan gas inilah awal mula terbentuknya Bumi, planet-planet, serta bulan-bulan lain.

Saat gravitasi Bumi semakin besar, gas dan debu tersebut akan termampat dan semakin lama semakin padat. Hal ini menyebabkan Bumi semakin panas dan menjadi bola berpijar. Bagian luar Bumi lambat laun mulai mendingin dan mengeras. Tetapi Bumi belum dingin sama sekali. Bagian tengah Bumi masih sangat panas. Proses pembentukan Bumi di atas hampir sama dengan pendapat Kant-Laplace yang mengemukakan bahwa Bumi ini mulai terbentuk selama bermiliar tahun yang lalu ketika dilepaskan dari matahari dalam bentuk gas pijar, yang lambat laun mendingin dan membentuk kerak batuan.

Walaupun banyak teori atau pendapat dari para ilmuwan tentang proses pembentukan Bumi, tetapi tidak seorang pun yang sungguhsungguh mengetahui dengan pasti bagaimana dan kapan Bumi terbentuk. Ya, menjadi tantangan bagi dunia ilmu pengetahuan yang suatu saat bisa kamu pecahkan.
Proses perkembangan planet Bumi dari masa ke masa tidak dapat dipisahkan dengan sejarah terbentuknya tata surya. Hal ini dikarenakan Bumi merupakan salah satu anggota keluarga Matahari, di samping planet-planet lain, komet, asteroid, dan meteor.

Berdasarkan hipotesis nebula (teori kabut gas) yang dikembangkan oleh seorang ahli filsafat Jerman, Immanuel Kant (1755) serta ahli astronomi Prancis, Pierre Simon Marquis de Laplace (1796), diperoleh gambaran bahwa sistem tata surya berasal dari massa gas (kabut gas) yang bercahaya dan berputar perlahan-lahan.

Massa gas tersebut secara berangsur-angsur mendingin, mengecil, dan mendekati bentuk bola. Oleh karena massa gas itu berotasi dengan kecepatan yang makin lama semakin tinggi, pada bagian khatulistiwanya (ekuator) mendapat gaya sentrifugal paling besar, massa tersebut akhirnya menggelembung. Akhir dari bagian yang menggelembung tersebut, ada bagian yang terlepas (terlempar) dan membentuk bola-bola pijar dengan ukuran berbeda satu sama lain.

Massa gas induk tersebut akhirnya menjadi Matahari, sedang kan bola-bola kecil yang terlepas dari massa induknya pada akhirnya mendingin menjadi planet, termasuk Bumi. Pada saat terlepas dari massa induknya, planet-planet anggota tata surya masih merupakan bola pijar dengan suhu sangat tinggi. Oleh karena planet berotasi, ada bagian tubuhnya yang terlepas dan berotasi sambil beredar mengelilingi planet tersebut. Benda tersebut selanjutnya dinamakan Bulan (satelit alam).

Menurut hasil penelitian para ahli astronomi dan geologi, Bumi terbentuk atau terlepas dari tubuh Matahari sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Perkiraan kelahiran Bumi ini didasarkan atas penelaahan Paleontologi (ilmu yang mempelajari fosil-fosil sisa makhluk hidup purba di masa lampau) dan stratigrafi (ilmu yang mempelajari struktur lapisan-lapisan batuan pembentuk muka Bumi).




Gambar 2.13 Proses Pembentukan Bumi

Ilustrasi proses pembentukan Bumi terbagi menjadi:

(a) Bumi masih berbentuk bola pijar;
(b) Bumi mendingin berangsur-angsur membentuk litosfer;
(c) pembentukan atmosfer Bumi;
(d) Bumi terbentuk sempurna.

Pada saat terlahir sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, Bumi kita masih merupakan bola pijar yang sangat panas. Lama kelamaan secara berangsur-angsur Bumi kita mendingin. Akibat proses pendinginan, bagian luar Bumi membeku membentuk lapisan kerak Bumi yang disebut litosfer. Selain pembekuan kerak Bumi, pendinginan massa Bumi ini mengakibatkan terjadinya proses penguapan gas secara besar-besaran ke angkasa. Proses penguapan ini terjadi dalam jutaan tahun sehingga terjadi akumulasi uap dan gas yang sangat banyak.

Pada saat inilah mulai terbentuk atmosfer Bumi. Uap air yang terkumpul di atmosfer dalam waktu jutaan tahun tersebut pada akhirnya dijatuhkan kembali sebagai hujan untuk kali pertamanya di Bumi, dengan intensitas tinggi dan dalam waktu yang sangat lama. Titik-titik air hujan yang jatuh selanjutnya mengisi cekungan-cekungan muka Bumi membentuk bentang perairan  laut dan samudra.
Seorang ahli ilmu cuaca dari Jerman yang bernama Alfred Wegener (1912), dalam teorinya yang terkenal, yaitu Teori Pengapungan Benua (Continental Drift Theory) mengemukakan bahwa sampai sekitar 200 juta tahun yang lalu, di Bumi baru ada satu benua dan samudra yang maha luas. Benua raksasa ini dinamakan Pangea, sedangkan kawasan samudra yang mengapitnya dinamakan Panthalasa.

Sedikit demi sedikit Pangea mengalami retakan-retakan dan pecah. Sekitar 180 juta tahun yang lalu, benua raksasa tersebut pecah menjadi dua, yaitu pecahan benua di sebelah utara dinamakan Laurasia dan di bagian selatan dinamakan Gondwana. Kedua benua itu dipisahkan oleh jalur laut sempit yang dinamakan Laut Tethys. Sisa Laut Tethys pada saat ini merupakan jalur cebakan minyak Bumi di sekitar laut-laut di kawasan Timur Tengah.



Gambar 2.14 Continental Drift Theory Continental Drift Theory dari Alfred Wegener mengenai terbentuknya massa daratan Bumi.

Baik di antara Laurasia maupun Gondwana kemudian terpecah-pecah lagi menjadi daratan yang lebih kecil dan bergerak secara tidak beraturan dengan kecepatan gerak berkisar antara 1–10 cm pertahun. Dalam sejarah perkembangan planet Bumi, Laurasia merupakan cikal bakal benua-benua yang saat ini letaknya di sebelah utara ekuator (belahan Bumi utara), meliputi Eurasia, Amerika Utara, dan pulaupulau kecil di sekitarnya. Adapun Gondwana merupakan cikal bakal benua-benua di belahan Bumi selatan, meliputi Amerika Selatan, Afrika, Sub Benua India, Australia, dan Antartika.

Read More »
16.41 | 0 komentar

Jumat, 21 Desember 2012

Teori – Teori tentang terbentuknya Tata Surya



1. Teori Nebula

Teori ini mengemukakan bahwa anggota keluarga dari tata surya awalnya berbentuk massa gas raksasa yang bercahaya dan putarannya yang perlahan.
Skema terjadinya tata surya menurut teori nebula adalah :
     a) Nebula berasal dari gas dan debu, sebagian besar menjadi Matahari.
     b) Terbentuk Matahari dan planet lain yang masih Berpijar.
     c) Matahari terbentuk planet-planet bertebaran tak terarah.
     d) Matahari berputar pada porosnya, planet-planet terbentuk atmosfernya.
     e) Planet terbentuk atmosfer, dibumi telah muncul kehidupan karena sudah ada lapisan     atmosfer.

2. Teori Planetesimal

Planetesemal adalah suatu benda kecil yang mengelilingi suatu inti yang bersifat gas. Teori ini mengemukakan ketika sebuah bintang melintasi ruang angkasa ini dengan cepatnya dan berada dekat sekali dengan matahari.
Skema terjadinya tata surya menurut teori Planetesimal :
a) Bintang melintasi ruang angkasa dengan cepat berada dekat dengan matahari
b) Bintang memiliki daya tarik besar sehingga menyebabkan pasang di bagian gas panas matahari
c) Massa gas terlempar dari matahari dan mulai mengorbit
d) daya tarik matahari menahan massa gas sehingga mengelilingi matahari
e) Massa gas menjadi dingin bentuk gas berubah mencair lalu memadat
f) Akhirnya gas itu menjadi planet

3. Teori Pasang

Teori ini mengemukakan planet – planet terbentuk langsung oleh gas asli matahari yang tertarik oleh bintang yang melintas di dekatnya.
Skema terjadinya tata surya menurut teori pasang :
a) ketika bintang mendekat matahari tarikan gravitasinya menyedot filament gas berbentuk cerutu panjang.
b) filament yang membesar di bagian tengah lalu mengecil kedua ujungnya dan membentuk sebuah planet.

4. Teori Lyttleton

Teori ini mengemukakan matahari mulanya berupa bintang kembar yang mengelilingi medan gravitasi.
Skema terjadinya tata surya menurut teori Lyttleton :
a) bintang menabrak salah satu bintang kembar dan menghancurkannya
b) bintang yang hancur menjadi massa gas yang berputar
c) karena terus berputar gas menjadi dingin dan membentuk planet

5. Teori Awan Debu

Teori ini mengemukakan bahwa calon dari tata surya adalah awan yang sangat luas.
Skema terjadinya tata surya menurut teori Awan Debu :
a) tidak teraturnya dalam awan menyebabkan terjadi putaran
b) debu dan gas berkumpul menjadi Satu dan hilanglah awannya
c) partikel debu yang keras saling berbenturan, melekat, dan membentuk planet
d) berbgai gas yang di tengah awan berkembang menjadi matahari

6. Teori Nebular Hypotesis

Teori ini mengemukakan bahwa tata surya berasal dari bola gas bersuhu tinggi dan berputar sangat cepat.
Skema terjadinya tata surya menurut teori Nebular Hypotesis :
a) bola gas bersuhu tinggi berputar sangat cepat maka sebagian besar dari massa kabut lepas
b) bagian yang terlepas berputar terus dan berubah menjadi dingin membentuk planet

7. Teori Proto Planet

Teori ini mengemukakan bahwa di sekitar matahari terdapat kabut gas yang membentuk gumpalan dan secara evolusi berangsur – angsur menjadi gumpalan padat.Gupana kabut gas dinamakan Proto Planet


Read More »
22.44 | 0 komentar

Rabu, 12 Desember 2012

Jagat Raya

Jagat raya adalah alam yang luas dan tak terhitung luasnya yang terdiri benda - benda langit di dalamnya.


Teori - teori tentang jagat raya :




1. Teori Big Bang (Ledakan Besar)

Jagat rayab berawal dari adanya suatu massa yang sangat besar dengan berat jenis yang besar pula dan mengalami ledakan yang sangat dahsyat karena ada reaksi inti dari inti massa. Ketika terjadi ledakan besar, bagian-bagian dari masa tersebut berserakan dan terpental menjauhi pusat dari ledakan. Setelah miliaran tahun kemudian, bagian-bagian yang terpental tersebut membentuk kelompok-kelompok yang dikenal sebagai galaksi-galaksi dalam tata surya.  Ledakan dahsyat ini terjadi 13.700 juta tahun yang lalu yang akibatnya membentuk bintang planet, debu kosmis, asteroid, meteor, energy, dan partikel lain. Teori ini didukung astronom dari Amerika Serikat oleh Edwin Hubble yang isi teorinya “Jagat raya ini tidak bersifat statis, semakin jauh jarak galaksi dari bumi, semakin cepat proses pengembangannya”. Dikuatkan lagi oleh Aro Pnezias dan Robert Wilson pada tahun 1965 telah mengukur tahap radiasi yang ada di angkasa raya. Penemuan ini disahkan pleh ahli sains menggunakan alat NASA bernama COBE spacecraft tahun 1989 – 1993. Kajian terkini darin laboratorium CERN (Conseil Eurepeen pour la Recherche Nucleaire) yang menguatkan lagi teori Big Bang. Semua ini mengesahkan bahwa pada masa dahulu langit dan bumi pernah bersatu sebelum akhirnya terpisah-pisah seperti sekarang.
Teori Big Bang dikembangkan oleh George Lemarie

2. Teori Dentuman (Teori Ledakan)

Ada suatu massa yang sangat besar yang terdapat di jagat raya dan mempunyai berat jenis yang sangat besar. Karena adanya reaksi inti massa tersebut akhirnya meledak dengan hebatnya. Masssa yang meledak kemudian berserakan dan mengembang dengan sangat cepat serta menjauhi pusat ledakan atau inti ledakan setelah berjuta – juta tahun massa yang berserakan membentuk kelompok-kelompok dengan berat jenis relatif  lebih kecil dari massa semula. Kelompok – kelompok tersebut akhirnya enjadi galaksi yang bergerak menjauhi titik intinya.
Teori ini didukung oleh adanya kenyataan bahwa galaksi-galaksi tersebut selalu bergerak menjauhi intinya.

3, Teori Keadaan Tetap (Creatio Continua)

Dikemukakan oleh Fred Hoyle, Bendi, dan Gold. Teori ini menyatakan bahwa saat diciptakan alam semesta ini tidak ada. Alam semesta ini selamanya ada dan akan tetap ada atau dengan kata lain alam semesta tidak pernah bermula dan tidak pernah berakhir. Pada setiap saat ada partikel yang dilahirkan dan ada yang lenyap. Partikel – pertikel tersebut kemudian mengembun menjaadi kabut – kabut spiral dengan bintang-bintang dan jasad-jasad alam semesta. Partikel yang dilahirkan lebih besar dari yang lenyap. Sehingga mengakibatkan jumlah materi makin bertambah dan mengakibatkan pemuaian alam semesta. Pengembangan ini akan mencapai titik batas kritis pada 10 milyar tahun lagi. Dalam waktu 10 milyar tahun akan dihasilkan kabut-kabut baru. Menurut teori ini 90% materi alam semesta adalah hidrogen dan hidrogenin. Kemudian akan terbentuk helium dan zat-zat lainnya.Dalam teori keadaan tetap harus menerim bahwa zat baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa diantara berbagai galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk menggantikan galaksi yang menjauhi.Dalam teori ini penambahan jumlah zat memerlukan waktu yang sangat lama, kira-kira seribu tahun untuk satu atom dalam satu volume ruang angkasa. 

3. Teori Keadaan Tetap


Dikemukakan oleh Fred Hoyle, Bendi, dan Gold. Teori ini menyatakan bahwa saat diciptakan alam semesta ini tidak ada. Alam semesta ini selamanya ada dan akan tetap ada atau dengan kata lain alam semesta tidak pernah bermula dan tidak pernah berakhir. Pada setiap saat ada partikel yang dilahirkan dan ada yang lenyap. Partikel – pertikel tersebut kemudian mengembun menjaadi kabut – kabut spiral dengan bintang-bintang dan jasad-jasad alam semesta. Partikel yang dilahirkan lebih besar dari yang lenyap. Sehingga mengakibatkan jumlah materi makin bertambah dan mengakibatkan pemuaian alam semesta. Pengembangan ini akan mencapai titik batas kritis pada 10 milyar tahun lagi. Dalam waktu 10 milyar tahun akan dihasilkan kabut-kabut baru. Menurut teori ini 90% materi alam semesta adalah hidrogen dan hidrogenin. Kemudian akan terbentuk helium dan zat-zat lainnya.Dalam teori keadaan tetap harus menerim bahwa zat baru selalu diciptakan dalam ruang angkasa diantara berbagai galaksi, sehingga galaksi baru akan terbentuk menggantikan galaksi yang menjauhi.Dalam teori ini penambahan jumlah zat memerlukan waktu yang sangat lama, kira-kira seribu tahun untuk satu atom dalam satu volume ruang angkasa. 

4. Teori Creatio Continua

Teori ini mengatakan bahwa alam semesta ini akan selalu ada dan tak akan pernah berakhir dan tak pernah bermula

5. Teori Ekspansi dan Kontraksi

Teori ini dikenal pula dengan nama teori ekspansi dan konstraksi. Menurut teori ini, jagat raya terbentuk karena adanya suatu siklus materi yang diawali dengan masa ekspansi atau mengembang yang disebabkan oleh adanya reaksi inti hidrogen, pada tahap ini terbentuklah galaksi-galaksi.Tahap ini diperkirakan berlangsung selama 30 milyar tahun, selanjutnya galaksi-galaksi dan bintang yang telah terbentuk akan meredup, kemudian memampat yang didahului dengan keluarnya pancaran panas yang sangat tinggi. Setelah tahap memampat maka tahap berikutnya adalah tahap mengembang dan kemudian memampat lagi.


 

Read More »
00.52 | 0 komentar